Jadikan Hari Natal Sebagai Wujud Pembuktian Indonesia Negeri Yang Berdaulat

Uncategorized45 Dilihat

Pesan Natal DPD GAMKI Provinsi DKI Jakarta:

Mungkin Sudah Terlalu Biasa Dengar INDONESIA

“Jadikan Hari Natal Sebagai Wujud Pembuktian Indonesia Negeri Yang Berdaulat”

Belakangan ini, kian banyak pro kontra, perdebatan publik tentang Nasionalisme Indonesia. Bahkan, saya melihat hal itu sudah terjadi begitu deras sejak memulai Pemilu 2004 lalu.

Hingga kini, sangat terkesan ada dua kubu yang saling bertentangan hebat tentang Nasionalisme Indonesia, “Kubu Indonesia” versus “Kubu Agamais”. Seolah Kubu Agamais itu bukan Indonesia.

Perdebatan bahkan kian menyebabkan karut sengkarut itu terus berlanjut hingga kini. Saya melihat, dalam beberapa peristiwa, Kelompok yang menamakan dirinya “Kubu Indonesia” difasilitasi oleh kekuasaan untuk melakukan ‘serangan-serangan’ terhadap ‘Kubu Agamais’. Yang membuat Kubu Agamais terpojok dan seolah-olah tak Indonesia.

Dalam perjalanan Sejarah Bangsa Indonesia, saya mendapati, tidak ada kubu-kubu itu, yang ada, perdebatan tentang tata cara mengelola sebuah negara dan pemerintahan.

Mungkin betul, ada saja gerakan hendak memisahkan diri dari Indonesia di masa lalu. Sebut saja, Negara Islam Indonesia (NII), Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (biasa disingkat dengan PRRI) dan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta), Republik Maluku Selatan (RMS), dan yang paling terbaru adalah Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Saya menelisik, bukan soal tak mau menjadi Indonesia apa yang mereka lakukan itu. Pada awalnya adalah tentang bagaimana mengakomodir dan menjadi Indonesia secara bersama-sama.

Adalah hal yang teramat lucu dan sangat mengada-ada. Namun kok terus-terusan dikembangbiakkan oleh segelintir orang, bahwa Kelompok Agamais adalah Anti Indonesia. Itu keliru besar. Sialnya, Kelompok Indonesia tadi, sering mendapat support dari fasilitator yang saat ini duduk di kekuasaan atau Pemerintahan.

Seorang kawan, dalam diskusi kami, pernah menyampaikan, cobalah lihat Taman Makam Pahlawan, di sana siapa saja yang terkubur? Di sana ada orang-orang Kristen yang mati demi Indonesia, Orang-Orang Batak yang gugur demi Indonesia, berbeda-beda suku dan latar belakang. Orang-orang beragama Islam juga sangat banyak. Hindu, Budha, Konghucu, Aliran Kepercayaan, bahkan Komunis atau ateis ada juga (mungkin) di sana. Ada juga orang keturunan Arab, Keturunan Cina, Keturunan Eropa.

Maka, menjadi sangat aneh, jika di musim Hari Raya Natal dan Tahun Baru seperti sekarang, selalu muncul perdebatan ‘Boleh’ atau ‘Tidak Boleh’ mengucapkan Selamat Hari Natal bagi orang-orang Kristen di Indonesia sini.

Seingat saya, sejak kecil, tak pernah dididik untuk haram mengucapkan Ucapan Selamat kepada saudara-saudari kita yang berbeda agama dan keyakinan. Kok sekarang sepertinya terus-terusan dihembus-hembuskan perbedaan itu? Api jika disiram dengan bensin atau minyak tanah, tentulah akan semakin membara.

Indonesia bukan Negara Agama. Indonesia juga bukan Negara Sekuler. Indonesia adalah Negara Pancasila. Anda tahu Pancasila berakar dari mana? Dari keberagaman, akar budaya yang beragam, latar belakang suku bangsa dan wilayah yang berbeda-beda, termasuk dari berbagai unsur perbedaan keyakinan dan atau agama.

Betul, di era lalu, dan mungkin hingga saat ini, ada saja satu dua kejadian, di mana seseorang didoktrin harus menjadi ‘Mualaf’ agar bisa memperoleh pangkat tinggi di Negara Indonesia ini. Kurang ajar sekali peristiwa dan pemahaman begini.

Belakangan ini, kecurigaan-kecurigaan, perbedaan-perbedaan itu selalu dihembus-hembuskan dan didengung-dengungkan. Indonesia mengalami ancaman serius dalam nasionalismenya, kata segelintir orang. Aku tak percaya itu.

Yang ada, para manusia rakus dan perampok sedang memanfaatkan isu-isu agama dan isu-isu perbedaan untuk membuat huru-hara dan memecah belah Indonesia. Para penipu dan pengkhianat berbungkus Nasionalisme Indonesia dan Kelompok Agamais.

Mereka itu ada di berbagai lini saat ini. Ada di Kelompok Suku, Kelompok Agama, Kelompok Penguasa, Kelompok Pemerintahan, Kelompok Ekonomi.

Saya pernah mengusulkan, jika memang hendak memimpin atau menjabat di Indonesia, harus dipastikan Nasionalisme Indonesianya. Menjadi Dirut BUMN, Komisaris BUMN dan lain sebagainya, pastikan itu orang-orang Nasionalisme Indonesia.

Anda bisa bayangkan, kerusakan parah akan terus terjadi, jika yang mengisi hampir semua sendi pemerintahan atau kekuasaan, termasuk di BUMN-BUMN diisi oleh kaum-kaum pengkhianat Indonesia yang berkedok dengan berbagai ‘wajah’ itu. Semua yang akan mengelolanya akan diisi oleh kelompoknya. Tak ada Indonesia lagi di situ. Isinya akan jadi segelintir perampok yang menjual berbagai isu untuk mempertahankan kedudukannya itu. Brengsek betul itu.

Jangan dikira cuma “Kelompok Agamais” Islam saja yang dituduh melakukan pengrusakan itu. “Kelompok Agamais” lainnya juga melakukan hal yang sama, baik itu Kristen, Hindu, Budha, Konghucu dan lain sebagainya. Ada saja orang-orang picik dan licik di masing-masing segmen itu.

Dalam pengamatan saya hingga kini, ada dua kelompok agama yang hendak ‘mendirikan negara di dalam negara Indonesia’. Kelompok Islam, dalam bentuk ISIS atau Islamic State of Iraq and Suriah, alias Negara Islam Irak dan Syam, juga dikenal dengan nama Negara Islam Irak dan Suriah, Negara Islam Irak dan asy-Syam, Daesh, atau Negara Islam, adalah kelompok militan ekstremis.

Kelompok Agama lainnya adalah Katolik. Secara Yuridis Formal, Katolik, yakni yang berada di Vatikan, adalah sebuah Negara. Negara Theokrasi. Ini jika sebagai sebuah negara, tentu tak boleh berada di dalam sebuah negara yang sah dan formal, seperti Indonesia ini.

Kalau dari kelompok suku atau wilayah, ada juga kelompok yang hendak membangun negara di Indonesia. Seperti Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Republik Maluku Selatan (RMS), dan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Kalau yang ini, cenderung karena hak-hak mereka sebagai bagian dari Bangsa dan Negara Indonesia terabaikan dan diabaikan.

Ada lagi yang agak unik, berdasarkan ras. Cina adalah yang mengedepankan bentuk ini. Di seluruh dunia, Cina sebagai ras selalu tunduk kepada Negeri Tirai Bambu. Mereka pernah menerapkan Dwi Kewarganegaraan. Di negeri mana pun orang Cina berada, pastinya dilindungi oleh Negara Cina. Dengan berbagai cara dan pendekatan.

Jadikan Hari Natal Sebagai Wujud Pembuktian Indonesia Negeri Yang Berdaulat. – Foto: Jhon Roy P Siregar, Ketua DPD GAMKI Provinsi DKI Jakarta. (Ist)
Jadikan Hari Natal Sebagai Wujud Pembuktian Indonesia Negeri Yang Berdaulat. – Foto: Jhon Roy P Siregar, Ketua DPD GAMKI Provinsi DKI Jakarta. (Ist)

Semestinya, Negara Indonesia yang berdaulat penuh itu, menegakkan kewarganegaraannya, melindungi segenap tumpah darah Indonesia dan Warga Negara Indonesia. Jangan terjebak pada perbedaan agama, perbedaan suku, perbedaan ras, perbedaan antar golongan (SARA). Dan jangan malah memfasilitasi kelompok-kelompok yang bersebaran di sejumlah lini, untuk merusak dan memojokkan Warga Negara Indonesia (WNI) lainnya, atas pendekatan agama, suku, ras dan antar golongan.

Saya, seorang dari Suku Batak, beragama Kristen, saya bukan pendatang ‘haram’ di Republik Indonesia ini. Saya tidak menaruh curiga terhadap saudara-saudara saya yang berbeda agama, pandangan politik, berbeda ras atau latar belakang. Selagi dia sungguh Nasionalisme Indonesia, tidak ada alasan untuk saling menyerang, atau saling mengharamkan.

Ini Indonesia. Bukan negara agama, bukan negara sekuler, bukan negara ras, bukan negara suku, bukan negara antah berantah.

Semestinya, setiap suku bangsa, setiap agama, setiap latar belakang, di Indonesia, membangun dialog, memahami perbedaan masing-masing, dan tidak menggembar-gemborkannya sebagai pemicu keretakan sosial, yang bisa juga menyebabkan disintegrasi di Indonesia.

Mengucapkan Selamat Hari Natal bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang beragama Kristen oleh saudara-saudara kita beragama lain bukanlah sebuah ‘kemewahan’ yang aneh. Hal yang sama harusnya terjadi, Ucapan Selamat Idul Fitri bagi saudara-saudara yang beragama Islam, dan Selamat Hari Keagamaan bagi saudara-saudari beragama Aliran Kepercayaan, Hindu, Budha, Konghucu, tidak ada yang haram. Sebagai sesama anak Bangsa dan Negara Indonesia.

Sebab, keyakinan hanya Sang Pencipta yang sangat mengetahuinya, apakah masuk sorga atau neraka. Bukan saya, bukan kamu, bukan kita, bukan mereka.

Hidup Indonesia.

Selamat Hari Natal 25-26 Desember 2020

Dan Selamat Menyambut Tahun Baru 2021

Untuk Saudara-Saudariku yang beragama Kristen, Islam, Aliran Kepercayaan, Hindu, Budha, Konghucu, berbagai Suku, Ras dan Antar Golongan.

Kiranya, Damai Suka Cita bagi Umat Manusia dan Seluruh CiptaanNYA.

Damai Sejahtera Indonesia.

Tuhan Yesus Kristus memberkati Indonesia, memberkati kita semuanya.

Horas, Ut Omnes Unum Sint. Ora Et Labora.

Jhon Roy P Siregar

Ketua DPD GAMKI Provinsi DKI Jakarta