Pemerintah Sering Pidato Optimisme Perekonomian, Udahlah, Lebih Baik Fokus Saja Dulu Tangani Covid-19

Ekonomi2 Dilihat

Per akhir November 2020 pertumbuhan kredit minus 1.39 persen. Sementara pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) 11,5 persen.

Menurut Sekjen Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (Opsi) Timboel Siregar, pertumbuhan DPK tersebut mengisyaratkan masyarakat menengah ke atas masih belum mau membelanjakan uangnya. Sehingga konsumsi tidak akan membantu pertumbuhan ekonomi bergerak ke angka nol lebih signifikan.

“Demikian juga para pebisnis, masih lebih suka taruh uang di bank dulu menunggu kondisi membaik. Daripada menginvestasikannya di sektor riil. Kondisi ini akan mempengaruhi kondisi hubungan industrial. Tidak ada PHK saja sudah bagus,” tuturnya.

Lebih lanjut, Koordinator Advokasi BPJS Watch ini menyebut, pertumbuhan kredit minus itu mengindikasikan geliat ekonomi mengalami stagnasi, produksi barang dan jasa melambat.

“Lagi-lagi pertumbuhan ekonomi terancam semakin susah menyentuh angka nol. Uang tidak produktif semakin besar dan ini menjadi kontraproduktif bagi sektor perbankan,” katanya, Minggu (27/12/2020).

Kebijakan menyeimbangkan penanganan Covid dan memulihkan ekonomi berakhir pada resultan, yaitu semakin meningkatnya orang yang terinfeksi Covid dan angka yang meninggal (data kemarin yang meninggal sebanyak 258 orang menjadi angka tertinggi sejak Covid-19 hadir di republik ini).

“Dan ekonomi yang tidak pulih-pulih juga, walaupun Pemerintah selalu menyatakan optimismenya,” ujar Timboel.

Liburan Natal dan Tahun Baru ini apakah akan berakhir baik yaitu orang yang terinfeksi Covid akan semakin turun dan perputaran uang semakin tinggi, atau sebaliknya, yang terinfeksi akan meningkat signifikan dan tidak memberikan nilai tambah pada pertumbuhan ekonomi? Kemungkinan kedua yang akan terjadi.

Per hari kemarin ada sekitar 108.411 orang yang masih terinfeksi Covid-19. Bila ada 15 persen Pasien Covid tersebut yang membutuhkan ruang-ruang perawatan khusus atau sekitar 16 ribuan, sementara ketersediaan tempat tidur di ruang khusus (ICU, ICCU dan HCU) di seluruh Rumah Sakit di Indonesia sebanyak 14.839 tempat tidur.

Maka ketidakseimbangan jumlah tempat tidur dan jumlah Pasien Covid menyebakan pasien Covid-19 akan semakin sulit mendapatkan tempat tidur di ruang perawatan khusus.

“Sudah banyak Pasien Covid yang ditaruh di IGD menunggu giliran dirawat di ruang intensif tersebut. Hitungan menunggu bukan lagi jam tapi hitungan hari,” jelas Timboel.

Kalau hal ini terjadi terus, maka angka kematian karena Covid akan semakin meningkat. Pemerintah harus menambah tempat tidur di ruang-ruang khusus, agar Pasien Covid mudah mengakses pelayanan di ruang khusus tersebut, sehingga tidak terlalu lama di IGD.

“Kita semua harus mendukung Pemerintah untuk menurunkan angka pasien Covid, dan ini yang harus menjadi fokus utama. Mengejar pemulihan ekonomi ditunda dulu saja, sambil memastikan vaksinasi dieksekusi di Januari 2021. Kita harus terus optimis aja ya,” tandasnya.(RGR)